Jangan terkecoh olehku. Jangan terkecoh oleh topeng yang
kupakai. Karena aku memakai topeng, aku memakai seribu topeng, topeng yang
takut kulepaskan, yang tidak satupun adalah diriku. Pura-pura adalah seni yang
jadi sifat kedua bagiku, tetapi tolong jangan terkecoh.
Aku memberikan kesan bahwa aku tenteram, bahwa semuanya
beres, baik di dalam batin maupun lingkunganku; bahwa kepercayaan diri adalah
ciri-ciriku dan sikap tenang adalah kebiasaanku; bahwa perairannya tenang dan
bahwa akulah yang memegang kendali dan aku tidak butuh siapapun. Tetapi tolong
jangan percaya, kumohon…
Aku ngobrol santai dengan semua orang dengan nada basa-basi.
Aku katakan segalanya yang sebenarnya tidak ada artinya, yang sama sekali lain
dari pada seruan hatiku. Jadi, kalau aku sedang berceloteh, jangan terkecoh
oleh apa yang kuucapkan. Tolong dengarkan dengan seksama dan berusahalah
mendengar apa yang tidak kuucapkan; apa yang ingin dapat kuucapkan; apa, demi
keselamatan, yang perlu kuucapkan tetapi tidak bisa. Aku tidak suka
bersembunyi, sejujurnya. Aku tidak suka permainan basa-basi yang kumainkan ini.
Sebenarnya aku ingin tulus, spontan, dan menjadi diriku
sendiri; tetapi kamu harus menolong aku. Kamu harus menolong aku dengan
mengulurkan tanganmu, sekalipun kelihatannya aku tidak menginginkannya atau
membutuhkannya. Setiap kali kamu bersikap baik serta lembut dan memberikan
dorongan, setiap kali kamu berusaha mengerti karena kamu sungguh peduli, hatiku
bersayap. Sayap kecil sih. Sayap lemah sih. Tetapi pokoknya bersayap. Dengan kepekaanmu
dan simpatimu serta daya pengertianmu, aku bisa menanggung semuanya. Kamu bisa
menghembuskan nafas kehidupan ke dalam diriku.
Pasti tidak mudah bagimu. Keyakinan akan ketidakberhargaan yang
sudah lama, pasti sudah membangun dinding yang kuat. Tetapi kasih itu lebih
kuat dari pada dinding yang kuat, dan disanalah letaknya pengharapanku. Tolong usahakanlah
untuk merubah dinding itu dengan tangan-tangan yang kokoh, tetapi lembut. Karena
seorang anak itu peka, dan aku ini anak-anak.
-2011-